Kyai AKN Marzuqi Pendiri SMK Telkom Terpadu

Kyai AKN Marzuqi Pendiri SMK Telkom Terpadu Dukuhseti

jawatengahnews.com – Siapa yang sangka ketertarikkannya didunia pendidikan membuatnya mendirikan sekolah. ya, dia adalah Kyai AKN Marzuqi pendiri SMK Telkom Terpadu yang berada di desa Dukuhseti. SMK Telkom terpadu yang dinaungi oleh Yayasan Baitul Hazin terbilang sukses. Cukup banyak prestasi yang diraih oleh sekolah ini. Mulai dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional.

Dalam pembelajaran agama juga SMK Telkom Terpadu milik kyai AKN Marzuqi tidak pernah ketinggalan. Kegiatan-kegiatan rohis dan kajian Islam selalu diadakan pada kurikulum yang ada di SMK Telkom Terpadu ini.

Meski terletak di pesisir pantai, SMK Telkom Terpadu AKN Marzuqi tidak bisa dianggap remeh.  Sekolah ini memiliki sederet prestasi. Salah satuya prestasi di bidang web design.Tak hanya juara dalam berbagai kompetisi web design, SMK Telkom Terpadu AKN Marzuqi juga pernah menyabet juara di bidang aplikasi software, lomba kompetensi siswa (LKS), sepak takraw, taekwondo, hingga juara voli.

SMK Telkom Terpadu AKN Marzuqi memiliki tiga jurusan, yakni Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), dan Teknik Kendaraan Ringan (TKR). Siswa yang lulus sudah dipersiapkan untuk bekerja di sejumlah rekanan penyerap alumni. Mereka yang ingin magang atau melanjutkan studi ke perguruan tinggi juga akan diberikan fasilitas.

KH Ahmad Khoirun Nasihin, Puasa Awal Dzulhijjah

KH Ahmad Khoirun Nasihin dari Pati menyampaikan bahwa puasa awal Dzulhijjah adalah waktu utama untuk beramal shalih. Di antaranya dengan banyak dzikir, bertakbir, dan termasuk pula berpuasa. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Puasa di Awal Dzulhijjah

Disampaikan oleh KH Ahmad Khoirun Nasihin, sebagaimana diceritakan dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 459)

Apa benar Nabi Tidak Melakukan Puasa Awal Dzulhijjah?

Dalam sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ

Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” (HR. Muslim no. 1176).

Dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan puasa ketika itu –padahal beliau suka melakukannya- karena khawatir umatnya menganggap puasa tersebut wajib. (Fathul Bari, 3: 390, Mawqi’ Al Islam)

KH Ahmad Khoirun Nasihin menegaskan bahwa Imam Ahmad bin Hambal juga menyatakan ada riwayat yang menyebutkan hal yang berbeda dengan riwayat ‘Aisyah tersebut. Lantas beliau menyebutkan riwayat Hafshoh yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan puasa pada sembilan hari awal Dzulhijah. Sebagian ulama telah menjelaskan bahwa jika ada pertentangan antara perkataan ‘Aisyah yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sembilan hari Dzulhijah dan perkataan Hafshoh yang menyatakan bahwa beliau malah tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari Dzulhijah, maka yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah.

Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460)

Inti dari penjelasan KH Ahmad Khoirun Nasihin, boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya saja. Bisa diniatkan dengan puasa Daud atau bebas pada hari yang mana saja, namun jangan sampai ditinggalkan puasa Arafah. Karena puasa Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun.

Sumber: Media Pati

Baca juga:

SMK TELKOM AKN SIAPKAN LAPANGAN KERJA

thoriqoh dan spiritual oleh kyai nasihin pati